Sabtu, 15 Desember 2012

Konflik: Perspektif Mayoritas-Minoritas


Kemajuan dalam berbagai bidang ilmu dan kehidupan manusia membawa akibat adanya perjumpaan yg makin intensif antar kelompok2 manusia. pergesekan antar budaya lokal satu dengan yg lain tak terhindarkan. dalam kaitan dengan keyakinan agama, apalagi ditambah dengan faktor keyakinan agama yg punya kecenderungan bersifat mutlak, pergesekan itu dapat menjadi benturan yg mengakibatkan pemecahbelahan dan perusakan kehidupan bersama.

Ada fenomena menarik dalam hubungan antar umat beragama, yg terkondisi dalam hubungan mayoritas-minoritas. dari sejarah dan pengalaman konkrit kehidupan ini, kita dapat melihat gejala sikap superior, agresif, dan ‘mau menang sendiri’ dari kelompok mayoritas terhadap kelompok minoritas. biasanya kelompok minoritas punya kecenderungan untuk lebih bersifat terbuka dan mau toleran, walau itu mungkin demi kelangsungan hidupnya di tengah mayoritas yg ‘agresif ‘ itu. gejala semacam itu juga tampak dalam hubungan antar umat beragama, di mana yg satu menjadi mayoritas dalam kehidupan bersama dan yg lain menjadi minoritas. kelompok mayoritas hampir selalu membawa sikap superior. dan sikap itu jelas merusakkan kehidupan bersama. jika kelompok minoritas itu bersikap eksklusif, punya fanatisme  tinggi, dan militan, bisa kita bayangkan kekacauan dalam kehidupan bersama yg akan terjadi. peristiwa sehari2 di Barat dan Timur, terutama yg berkaitan dengan perjumpaan antar umat beragama, menunjukkan kebenaran hal ini : kelompok mayoritas ( Kristen di Barat, Hindu di India, Islam di banyak negara Islam, dll. ) pada umumnya menunjukkan gejala superioritasnya, sedang kelompok agama minoritas ( apapun agama itu ) hampir selalu menunjukkan sikapnya yg lebih sehat, positif, terbuka, dan toleran.

Gejala hubungan mayoritas-minoritas di atas menunjukkan bahwa faktor ajaran agama bukanlah penyebab utama masalah benturan antar umat beragama, atau bahkan dapat dikatakan bahwa benturan itu tidak berkaitan dengan masalah keagamaan. perbedaan yang ada tidak harus menghasilkan benturan yg berakibat pemecahbelahan atau perusakan kehidupan bersama. faktor mayoritas ( faktor orangnya, yg merasa diri berjumlah dan berkekuatan besar ) itulah yg menjadi penyebab utama benturan yg merusak !! jadi benturan itu hanya gejala sosiologis biasa : kelompok mayoritas selalu mau menang dan cenderung sewenang2. pada banyak kasus alasan keagamaan ( klaim kebenaran ) hanya ‘alat bantu’ untuk membenarkan ‘naluri’ mayoritasnya (band. kelompok umat dari agama yg sama, saat ia menjadi minoritas, bersikap positif, terbuka, dan toleran - klaim kebenaran mereka tidak merusakkan kehidupan bersama ; selain itu gejala ‘mencampur aduk’ dua macam benturan - yg berciri keagamaan dan berciri ke-ras/suku-an - seperti yg sering terjadi di Indonesia, menunjukkan bahwa alasan keagamaan bukanlah alasan yg sesungguhnya ! ). tentu ada pengecualiannya : pada kelompok fundamentalis, apalagi yg ekstrim, alasan keagamaan dapat menjadi alasan utama ( dan tentunya tidak mencampur-adukkannya dengan benturan yg berciri ke-ras/suku/budaya-an). sekali lagi, gejala benturan mayoritas-minoritas antar umat beragama ini lebih bersifat sosiologis, seperti yg juga terjadi dalam hubungan mayoritas-minoritas di luar kelompok2 keagamaan. jika masalah keagamaan ada dalam benturan itu, maka masalah itu hanya bersifat sampingan ( atau bahkan merupakan penyalahgunaan agama untuk maksud2 yg tidak bersifat keagamaan).

0 komentar:

Poskan Komentar